Kerusakan ini diperparah oleh buruknya sistem drainase di sepanjang bahu jalan. Parit yang seharusnya mengalirkan air tampak tidak terawat, tersumbat sampah, dan ditumbuhi rumput liar. Akibatnya, air meluap ke badan jalan setiap kali hujan turun, memicu banjir yang seringkali membuat sepeda motor mogok dan menghambat kendaraan kecil untuk melintas.
Lebih lanjut, pasca banjir bandang yang terjadi sebulan lalu, ruas jalan Kumpulan – Padang Sawah ini menjadi jalur alternatif utama yang padat dilalui masyarakat. Namun, beban jalan semakin berat karena kerap dilewati oleh kendaraan besar dengan muatan yang melebihi tonase (overload), yang mempercepat laju kerusakan aspal.
Keluhan mendalam dirasakan oleh pengguna jalan. Untuk menempuh jarak hanya 10 kilometer, pengendara harus menghabiskan waktu lebih dari satu jam karena kondisi medan yang sangat sulit.
“Kami sangat berharap perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui dinas terkait. Jalan ini harus segera diperbaiki. Kami mengusulkan adanya pengecoran di sisi kiri dan kanan jalan agar saat kendaraan berpapasan tidak terjadi kemacetan,” ujar salah seorang warga Simpang Alahan Mati yang tak mau disebutkan namanya kepada Jurnalis Media ini..
Selain perbaikan badan jalan, warga juga mendesak pemerintah untuk melakukan normalisasi parit. Pembersihan dan pembangunan dinding penahan (dam) pada drainase sangat diperlukan agar air tidak lagi merendam jalan, sehingga umur aspal bisa lebih bertahan lama.
Masyarakat berharap Dinas BMCKTR Provinsi Sumatera Barat segera turun ke lapangan untuk melakukan langkah perbaikan darurat maupun permanen demi kelancaran akses publik dan keselamatan para pengguna jalan.
#helmiboy/rispondi
#nkri
#nasional
#kementerian PU
